25 December 2013

KAKEK MONO DAN BONEKA ANGRY BIRD

Wajah sumringah penuh keceriaan Kakek Mono terpancar jelas dari setiap guratan kulit yang semakin menua dan berkeriput. Senyumnya selalu mengembang disetiap langkahnya yang mantap, sedikit miring ke kanan agar berat tubuhnya ditopang sempurna oleh sebatang tongkat kayu yang digenggam erat oleh tangan kanannya. Ia baru saja keluar dari Toko Mainan, membeli sebuah Boneka Angry Bird yang ia tenteng dengan tangan kirinya seharga 45 ribu rupiah, berwarna merah dan dibungkus plastik kado seadanya. Plastik kado itu pemberian dari sang-penjual mainan karena merasa iba dan tersentuh hatinya saat Kakek Mono menjelaskan bahwa boneka itu untuk cucunya di Desa.


Mungkin, uang 45 ribu rupiah tidak ada apa-apanya untuk kita. Namun, bagi Kakek Mono uang sebesar itu harus ia kumpulkan berbulan-bulan lamanya. Ia kumpulkan sedikit demi sedikit kepingan uang receh dari hasil keuntungan menjual balon seharga seribu rupiah di Balai Kota Surabaya. Tidak jarang, Kakek Mono memakan nasi bekas yang masih tersisa di tong sampah. Rasa asam dari nasi bekas tidak ia hiraukan, didalam hati ia terus-menerus bersyukur kepada TUHAN masih bisa makan dan tak lupa ia juga berterima kasih kepada orang yang membuang nasi itu. Mungkin orang-orang itu sudah terlalu kenyang, pikirnya.

Selama Kakek Mono bertahan hidup di Kota Surabaya dengan berjualan balon udara, ia pernah mendapatkan perlakuan buruk dari aparat SatPol-PP. Tabung udara untuk menyimpan gas heliumnya ditendang aparat hingga menyisakan bekas penyok, kemudian ia dibentak, dimaki, dan didorong hingga tubuhnya terhempas dan terjerembab disalah satu sudut paving jalan. Terkadang, Kakek Mono mencoba untuk mencerna pola pikir para pejabat, maunya mereka itu apa? Miskin-miskin begini, saya ini bekerja! Saya ini bukan peminta-minta atau pengemis! Kenapa orang seperti saya harus diperlakukan ‘tak adil? Saya masih punya harga diri, pantang untuk jadi pengemis seperti anak muda kebanyakan yang lebih memilih menjadi tukang parkir. Padahal dengan usia mereka yang masih terbilang produktif, mereka mampu menghasilkan karya yang bermanfaat atau bekerja sebagai buruh Pabrik.

Semakin Kakek Mono memikirkan hal berat semacam itu, kepalanya selalu terasa pusing. Dengan usianya yang renta seperti ini, segala macam hiruk-pikuk persoalan politik di negara ini tidak begitu penting. Yang ia inginkan, segera bertemu dengan sang-cucu. Ia pasti senang melihat Kakeknya pulang membawa oleh-oleh boneka cantik ini. Sebuah ekspresi dari sang-cucu yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik, lebih dari cukup untuk menutupi suka-duka yang ia rasakan selama proses mengumpulkan uang.

Orang tua renta seumuran kakek mono, biasanya menghabiskan masa hidupnya di kampung. Jauh dari hiruk-pikuk dinamis perkotaan. Menanti ajal sambil terus beristighfar diatas kursi reot, mengingat dan memohon ampunan TUHAN atas dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat semasa hidupnya. Tapi, begitulah watak Kakek Mono. Ia tidak berputus asa, ingin terus berjuang sekuat tenaga untuk hidup mandiri. Ia tidak mau menyusahkan atau merepotkan anak-anaknya yang sudah memiliki keluarga masing-masing.

Rumah tempat cucunya tinggal, hanya beberapa ratus meter lagi. Kakek Mono semakin mempercepat langkahnya yang mulai terasa berat. Manusia hanyalah bisa berencana dan segala keputusan tetap milik TUHAN. Mungkin TUHAN mempunyai jalan cerita sendiri untuk Kakek Mono. Sebuah Bus Antar Provinsi melaju terlalu dekat dengan Kakek Mono. Hembusan angin dari Bus itu mendorong tubuh rentanya dan ia pun terjatuh di bahu jalan raya. Nahas, dibelakang Bus, melaju mobil panther berkecepatan tinggi. Dengan kecepatan seperti itu, ‘tak mungkin mobil itu bermanuver. Kakek mono meninggal seketika ditempat kejadian. Mukanya bercucuran darah segar akibat hantaman bemper mobil. Tongkat kayu miliknya, patah. Warga yang melihat kejadian itu, langsung berhamburan mengerubuti tempat kejadian. Seorang Ibu yang sedang menjemur baju diteras depan, melihat kejadian itu berteriak histeris dan pingsan. Yang tersisa hanyalah sebuah Boneka Cantik Angry Bird yang didalamnya tertera tulisan tangan dari Sang-Kakek:

“Untuk Cucu Ku Tercantik dan Tercinta, Noor. Tetaplah Tersenyum”
~ Kakek Mono~

0 comments:

Post a Comment